Dampak Ketimpangan Wilayah di Indonesia terhadap Pola Pergaulan Masyarakat
Ketimpangan dan Ketimpangan Wilayah
Ketimpangan merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan dua kondisi yang berbeda jauh, Ketimpangan dapat juga didefinisikan sebagai kondisi dimana terdapat ketidakseimbangan atau jarak yang berada di tengah masyarakat dalam berbagai aspek seperti perbedaan status sosial, ekonomi, hingga budaya. Sementara itu, ketimpangan wilayah merupakan salah satu permasalahan di Indonesia yang belum dapat diselesaikan. Ketimpangan wilayah diartikan sebagai kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan pada satu wilayah dengan yang lain, sehingga terdapat jarak yang cukup lebar pada wilayah yang maju dengan yang terbelakang.
Ketimpangan Daerah di Indonesia
Ketimpangan daerah atau ketimpangan wilayah terjadi karena kurangnya pemerataan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah. Indonesia rupanya menduduki posisi teratas pada aspek ketimpangan pembangunan antar wilayah (Firdaus, 2013). Kesenjangan antardaerah di Indonesia merupakan konsekuensi dari terkonsentrasinya pembangunan ekonomi di Pulau Jawa dan Bali. Berkembangnya provinsi-provinsi baru pada tahun 2001 serta adanya desentralisasi diduga akan memperlebar kesenjangan antardaerah (Alisjahbana, 2005).
Dilansir dari Kompas.com, permasalahan ketimpangan di Indonesia sendiri telah diakui oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Joko Widodo mengakui adanya ketimpangan pembangunan yang terjadi di wilayah Indonesia Timur dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian barat. Hal tersebut terlihat pada minimnya pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan bandar udara di daerah Indonesia Timur. Ketimpangan itu pembangunan antarwilayah tersebut mengakibatkan terhambatnya perkembangan wilayah karena kurangnya akses pelayanan sarana dan prasarana.
Permasalahan ini dianggap ironis karena pada dasarnya, Kawasan Indonesia Timur memiliki wilayah yang sangat luas dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah. Ketimpangan yang terjadi di wilayah Indonesia khususnya Kawasan Indonesia Timur rupanya tidak hanya disebabkan karena adanya ketidakmerataan pembangunan. Bentuk-bentuk investasi yang dilakukan oleh pemerintah baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri juga menjadi sebab dari ketimpangan pembangunan antar daerah. Ketika kekayaan daerah disalahgunakan, pembangunan ekonomi daerah tersebut akan sangat terdampak hingga akhirnya terjadi kesenjangan di antara daerah satu dengan yang lain.
Kesenjangan Wilayah di Pulau Jawa
Meskipun pemerintah mengkonsentrasikan pembangunan di Pulau Jawa, wilayah tersebut masih mengalami adanya kesenjangan wilayah. Faktanya, pada tahun 2013 Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan tingkat ketimpangan tertinggi karena kegiatan perekonomian masih didominasi oleh bidang industri dan perdagangan. Selain itu, ketimpangan wilayah di Pulau Jawa juga terjadi karena pusat perekonomian Pulau Jawa terdapat di Ibukota Republik Indonesia, tepatnya pada Provinsi DKI Jakarta. DKI Jakarta memiliki peran yang sangat penting dan strategis terhadap perekonomian yang lebih luas sehingga tidak heran apabila Provinsi DKI Jakarta mendapatkan keutamaan dalam segi pembangunan ekonomi maupun infrastruktur.
Akan tetapi, hal tersebut menjadi pembangun jarak di antara DKI Jakarta maupun Kawasan Jabodetabek dengan kawasan-kawasan lain di provinsi-provinsi Pulau Jawa. Pembangunan baik pada bidang ekonomi maupun infrastruktur di Provinsi DKI Jakarta jelas telah menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih maju dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Permasalahan ini menjadi bentuk transparansi dari ketimpangan wilayah di Pulau Jawa. Meski sebagian besar wilayah di Pulau Jawa telah mendapatkan aksesibilitas dan fasilitas yang layak, terdapat beberapa daerah yang masih memerlukan perhatian pemerintah. Sayangnya, kebutuhan itu sering kali tidak dapat dipenuhi sehingga menghasilkan ketidaksetaraan hingga ketidakadilan pada daerah-daerah tertentu.
Kesenjangan Budaya dan Hubungannya dengan Ketimpangan Daerah
Kesenjangan budaya merupakan kondisi dimana terdapat ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan yang diakibatkan karena adanya perubahan atau pergeseran budaya. Kesenjangan budaya juga terjadi karena adanya perbedaan taraf kemajuan antara suatu daerah dengan daerah yang lain. Perbedaan budaya yang terdapat pada setiap daerah dapat dibilang sangat bergantung dengan pembangunan daerah itu sendiri. Daerah dengan pembangunan ekonomi yang baik pada umumnya cenderung lebih menghasilkan masyarakat yang bersifat individualis, hedonis, terpengaruh budaya asing, serta lebih terbuka dengan perkembangan teknologi. Sementara itu, daerah yang terbelakang dalam segi perekonomiannya biasanya menghasilkan masyarakat yang masih memegang erat aspek keagamaan/tradisi, cenderung mengutamakan kekerabatan dan solidaritas, namun belum bisa membuka diri dengan adanya perkembangan zaman.
Problematika ini lagi-lagi menghasilkan jarak yang cukup luas di antara daerah-daerah maju dengan daerah terbelakang. Kesenjangan budaya menjadi salah satu faktor terjadinya ketimpangan antarwilayah khususnya di Negara Indonesia yang bersifat pluralis. Ketidakmertaan tersebut sering kali mengakibatkan terjadinya pertikaian serta perpecahan pada wilayah-wilayah tertentu. Hal itu disebabkan karena masyarakat yang merasa telah diperlakukan dengan tidak adil, ataupun adanya primordialisme yakni keyakinan kuat seseorang terhadap kebenaran nilai-nilai kebudayaan daerahnya.
Pengaruh Kesenjangan terhadap Pergaulan Masyarakat
Sebagai penduduk Indonesia, sering kali kita berada dalam situasi di mana terdapat masyarakat dari daerah yang berbeda-beda pada sebuah tempat atau institusi. Tanpa disadari, meskipun terdapat banyak anggota dari berbagai daerah pada institusi tersebut, mayoritas dari kita akan lebih memilih untuk berkumpul dengan orang yang berasal dari daerah yang sama dengan kita. Seiring berjalannya waktu, perkumpulan itu akan menjadi sebuah lingkaran pertemanan yang bersifat eksklusif. Secara tidak langsung, hal ini dapat menyebabkan perpecahan serta kesalahpahaman dalam pergaulan. Selain itu, ketertinggalan individu yang berada di luar lingkaran pertemanan dalam akses informasi juga mungkin terjadi. Individu yang tidak termasuk pada lingkaran pertemanan pada umumnya adalah minoritas yang cenderung kesulitan menemukan teman dengan latar belakang yang sama. Pihak minoritas sering kali mengalami keterhambatan dalam upaya menjalin pertemanan di luar daerahnya. Terlebih jika ia berasal dari daerah yang cenderung tertinggal.
Secara umum, permasalahan ini disebabkan karena adanya kesenjangan di antara wilayah satu dengan yang lain. Penduduk daerah maju umumnya lebih mudah untuk menemukan lingkungan pergaulan yang sesuai dengan masing-masing individu. Karena pembangunan ekonominya yang lebih maju serta aksesibilitas yang jauh lebih mudah, masyarakat daerah maju cenderung lebih terbiasa beradaptasi dengan tempat dan lingkungan baru. Mereka juga jarang mengalami kesulitan dalam pergaulan, karena daerah asalnya yang lebih luas dan memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak. Sementara itu, penduduk daerah terbelakang justru akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi, terutama ketika dipaksa menemukan lingkungan pertemanan yang sesuai dengannya.
Mengapa Ketimpangan Wilayah berpengaruh dengan Pola Pergaulan?
Terdapatnya perpecahan atau konflik antarwilayah dan suku pada umumnya terjadi karena kecintaan yang berlebihan akan budaya serta suku seseorang. Hal ini sering kali mengacu pada fanatisme dan primordialisme atau kondisi di mana seseorang merasa suku bangsanya adalah ras terkuat dan terbaik di antara ras ataupun etnis yang lain. Pada dasarnya, setiap orang memiliki kecenderungan untuk menjadi primordial karena seseorang umumnya menghabiskan sebagian besar masa hidupnya dengan masyarakat sekitar di tempat ia berada. Akibatnya, seseorang akan merasa lebih nyaman ketika mereka berada di sekitar orang-orang dengan latar belakang budaya yang sama.
Perpecahan dan hilangnya solidaritas antarsuku juga dapat terjadi karena adanya ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat pada wilayah tertentu. Terjadinya desentralisasi dapat memicu adanya konflik anatrsuku karena hal tersebut memungkinkan lahirnya kecemburuan pada suatu daerah terhadap daerah lain. Beberapa daerah di Indonesia yang tidak diberikan perhatian yang cukup oleh pemerintah akan merasa tertindas karena mereka terpaksa mengalami kesulitan serta keterbatasan akses. Hal tersebut menjadi akar dari sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup di daerah-daerah terbelakang.
Seseorang akan lebih memilih untuk berkumpul bersama orang-orang sedaerahnya karena adanya kesamaan budaya maupun kebiasaan yang mereka jalani. Masyarakat di wilayah-wilayah maju terutama pada bidang ekonomi cenderung lebih memiliki perilaku yang konsumtif dibandingkan dengan masyarakat yang berasal dari wilayah terbelakang. Individu-induvidu yang terbiasa menghabiskan uangnya tentu akan lebih memilih untuk bergaul dengan teman-teman sepantarannya. Dengan demikian, ia maupun teman-temannya tidak perlu mencoba untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berbeda, karena sejatinya manusia mengetahui apa yang mereka inginkan untuk mereka sendiri. Sebaliknya, seseorang yang berasal dari wilayah yang kurang maju, umumnya lebih memiliki gaya hidup yang pas-pasan saja. Sejara logika, wajar saja apabila mereka merasa keberatan jika harus bergaul dengan orang-orang yang lebih maju daripada mereka. Orang-orang yang berasal dari wilayah terbelakang akan lebih memilih untuk bergaul dengan teman-teman yang memiliki gaya hidup yang sebanding dengan mereka. Dengan begitu, mereka tidak akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian gaya hidup, serta tidak perlu merasakan ketertinggalan karena perbedaan latar belakangnya.
Budaya lain yang menjadi alasan masyarakat lebih memilih untuk bergaul dengan teman sedaerahnya ialah adanya perbedaan bahasa yang digunakan sehari-hari. Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan budaya memiliki lebih dari 700 ragam bahasa yang digunakan oleh masyarakat di setiap daerah. Tak heran, seseorang yang sudah terbiasa menggunakan bahasa daerahnya sehari-hari cenderung mencari orang yang bisa diajak berkomunikasi dengan bahasa daerahnya. Meskipun terdapat Bahasa Nasional Indonesia, beberapa orang masih lebih memilih untuk melakukan komunikasi dengan bahasa daerahnya masing-masing. Setidaknya, mereka umumnya memiliki logat yang sangat khas hingga sering kali orang yang berasal dari daerah lain akan kesulitan untuk mengerti apa yang mereka sampaikan.
Kesimpulan
Tanpa disadari.konflik ketimpangan wilayah dapat melahirkan perpecahan serta runtuhnya persatuan di Indonesia. Untuk itu, pemerintah harus lebih cekatan dalam mengupayakan pemerataan wilayah Indonesia agar permasalahan-permasalahan baru yang sulit diatasi dapat diminimalisir. Selain itu, masyarakat juga perlu menanamkan sikap toleransi dalam segi pergaulan. Jangan sampai kecintaan kita terhadap daerah kita masing-masing menjadi kecintaan yang berlebihan hingga dapat menimbulkan konflik yang fatal. Dengan demikian, Persatuan Suku Bangsa di Indonesia dapat bangkit kembali mewarnai nama Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Alisjahbana, A. S. (2005). Kesenjangan Regional di Indonesia. Lembaga Penelitian SMERU.
Firdaus, M. (2013). Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah di Indonesia: Fakta dan Strategi Inisiatif.
Ginting, A. M. (2015). Pengaruh Ketimpangan Pembangunan Antarwilayah terhadap Kemiskinan di Indonesia 2004–20013. Kajian, 20(1).
Jokowi Akui Ada Ketimpangan Pembangunan di Wilayah Timur Indonesia. (2019). Regional.Kompas.Com. https://regional.kompas.com/read/2019/10/29/14105121/jokowi-akui-ada-ketimpangan-pembangunan-di-wilayah-timur-indonesia
Maulana, M. I. (2019). Analisis Ketimpangan Pembangunan Daerah Antar Provinsi di Indonesia Tahun 2013–2017. Jurnal Publikasi Universitas Islam Indonesia.
Purwanti, P. (2019). Penyebab Konflik Antar Suku di Indonesia yang Paling Utama. Hukamnas.Com. https://hukamnas.com/penyebab-konflik-antar-suku-di-indonesia